SOLO, KOMPAS.com -- Klinik Berhenti Merokok (KBM) di Kota Solo, Jawa Tengah, memberi layanan gratis mulai dari pemeriksaan, konsultasi dokter, hingga obat-obatan kepada seseorang yang ingin menghentikan kebiasaan merokok. Klinik ini tersebar di empat puskesmas, yakni Puskesmas Nusukan, Penumping, Purwodiningratan, dan Kratonan.
Pasien yang datang ke KBM terlebih dahulu akan diperiksa fungsi paru-parunya oleh spirometri dan kadar CO dalam darah. Zat CO adalah racun dalam rokok. Setelah itu, pasien akan berkonsultasi dengan dokter.
"Di sini kami tanyakan, riwayat merokoknya. Apakah pernah mencoba berhenti merokok dan apa kendalanya. Biasanya pasien sendiri yang menyatakan kapan akan mulai mengurangi atau berhenti merokok," kata koordinator tim KBM Puskesmas Purwodiningratan dr Andreas Budi Santoso, Rabu (16/11/2011).
Jika diperlukan, menurut Andreas, pasien akan diberi obat-obatan untuk mengatasi keluhan yang muncul saat mengurangi atau menghentikan merokoknya, seperti mulut pahit, gelisah, atau pusing. Obat-obatan ini diharapkan efektif membantu perokok menghentikan kebiasaan merokoknya. "Semua layanan ini gratis dibiayai Pemkot Solo," kata Andreas.
Thursday, February 9, 2012
Wednesday, February 8, 2012
Bungkus Rokok Polos Tekan Selera Merokok
KOMPAS.com - Menghentikan kebiasaan merokok memang sangat sulit dilakukan, terutama bagi mereka yang sudah kecanduan. Namun penelitian terbaru menunjukkan, ada hubungan antara bentuk kemasan rokok dengan selera konsumsi tembakau.
Peneliti menemukan, bungkus rokok yang dikemas polos (tanpa warna), kusam, dan tanpa merek, dapat membantu mengurangi konsumsi tembakau di kalangan perokok, khususnya wanita muda yang merokok.
Temuan ini didapatkan setelah para ilmuwan Stirling University Institut melaksanakan uji kuesioner terkait sikap orang dewasa di Glasgow yang berusia 18-35 tahun terhadap kemasan rokok polos.
"Studi naturalistik menunjukkan bahwa bungkus rokok yang polos memainkan peran penting dalam membantu mengurangi konsumsi tembakau di beberapa kalangan perokok dewasa muda, dan perempuan pada khususnya," kata peneliti dalam jurnal Tobacco Control.
"Studi ini menegaskan, kurangnya daya tarik kemasan polos, berpengaruh terhadap berkurangnya kenikmatan dan konsumsi rokok. Kami akan meneliti lebih lanjut untuk memahami dampak bentuk kemasan bagi perokok," tambahnya.
Sementara itu Direktur Stirling Institute Gerard Hastings mengatakan, walaupun studi tersebut cakupannya masih kecil dan tak menghasilkan statistik yang signifikan, akan tetapi dapat menunjukkan efektivitas dalam menekan penggunaan tembakau.
"Kemasan polos dari bungkus rokok membuat perokok mengurangi kebiasaan buruk mereka untuk terus merokok, hal ini lebih jelas terlihat pada wanita dibandingkan pada pria," katanya.
http://health.kompas.com/read/2011/09/12/13480187/Bungkus.Rokok.Polos.Tekan.Selera.Merokok
Peneliti menemukan, bungkus rokok yang dikemas polos (tanpa warna), kusam, dan tanpa merek, dapat membantu mengurangi konsumsi tembakau di kalangan perokok, khususnya wanita muda yang merokok.
Temuan ini didapatkan setelah para ilmuwan Stirling University Institut melaksanakan uji kuesioner terkait sikap orang dewasa di Glasgow yang berusia 18-35 tahun terhadap kemasan rokok polos.
"Studi naturalistik menunjukkan bahwa bungkus rokok yang polos memainkan peran penting dalam membantu mengurangi konsumsi tembakau di beberapa kalangan perokok dewasa muda, dan perempuan pada khususnya," kata peneliti dalam jurnal Tobacco Control.
"Studi ini menegaskan, kurangnya daya tarik kemasan polos, berpengaruh terhadap berkurangnya kenikmatan dan konsumsi rokok. Kami akan meneliti lebih lanjut untuk memahami dampak bentuk kemasan bagi perokok," tambahnya.
Sementara itu Direktur Stirling Institute Gerard Hastings mengatakan, walaupun studi tersebut cakupannya masih kecil dan tak menghasilkan statistik yang signifikan, akan tetapi dapat menunjukkan efektivitas dalam menekan penggunaan tembakau.
"Kemasan polos dari bungkus rokok membuat perokok mengurangi kebiasaan buruk mereka untuk terus merokok, hal ini lebih jelas terlihat pada wanita dibandingkan pada pria," katanya.
http://health.kompas.com/read/2011/09/12/13480187/Bungkus.Rokok.Polos.Tekan.Selera.Merokok
Rokok Elektronik Berasap Uap Air
KOMPAS.com - Pernah mendengar yang namanya rokok elektronik? Tentunya bukan merokok melalui email atau yang sejenisnya. Rokok jenis ini dapat disarankan untuk orang-orang terdekat Anda yang masih mengepulkan asap rokok setiap hari. Sebab, rokok elektronik mengeluarkan asap yang berbeda dengan rokok biasa. Memang berasap, tetapi asap yang dihasilkan dari uap air dan tidak berbau.
Penemuan electronic cigarette, atau yang disingkat e-cigarette, adalah langkah yang tepat untuk para perokok yang sangat ingin berhenti dari kecanduan nikotin yang terdapat pada rokok konvensional.
Menurut situs My Smoking Altenatives, rokok elektronik sedang populer di antara para perokok. Perokok tersebut dibagi dalam dua kategori : mereka yang benar-benar ingin berhenti merokok dan kedua, mereka yang masih ingin meneruskan merokok, tetapi dengan "cara yang aman". Dan rokok elektronik menjadi cara untuk perokok kategori kedua.
Rokok elektronik terlihat dan terasa seperti rokok sesungguhnya. Ketika Anda mengisap, ujung rokok akan menyala seperti layaknya rokok biasa.
Rokok elektronik itu juga mengeluarkan asap. Hanya saja, asap itu berasal dari uap air yang sama sekali tidak berbahaya dan tidak berbau. Rokok elektronik dioperasikan dehgan menggunakan teknologi elektronik. Rokok elektronik juga tidak mengandung bahan-bahan berbahaya yang ditemui dalam rokok tradisional. Rokok elektronik tidak mengandung karbon monoksida/ dioksida, tidak berbau, tidak membuat napas menjadi bau, dan juga tidak menguningkan gigi.
Keuntungan lain adalah perokok elektronik tidak membahayakan orang lain, yang biasa disebut sebagai second hand smoke. Mereka bisa tetap merokok di tempat-tempat umum. Sungguh, rokok elektronik itu benar-benar bisa dipakai bergaya dan juga tidak merugikan orang lain.
Ada sembilan alasan mengapa para perokok harus mulai meninggalkan rokok tradisional dan menggantikannya dengan rokok elektronik.
1. Sehat karena tidak mengandung tar dan karsinogen. Bahkan, sudah ada penelitian yang mengonfirmasi bahwa rokok elektronik tidak menyebabkan kanker.
2. Mendekatkan perokok dengan orang lain. Tidak dapat dipungkiri, jika ada yang merokok di antara kita, biasanya mereka yang tidak merokok akan menghindar. Dengan demikian, si perokok hanya berdiri sendiri di sana untuk menikmati bau rokoknya. Rokok elektronik sama sekali tidak berbau, jadi perokok akan tetap bisa berbaur dengan orang lain.
3. Hilangkan kecanduan secara perlahan. Kebiasaan merokok memang sulit dihentikan, sehingga membuat kecanduan. Nah, dengan rokok elektronik, kecanduan merokok seperti dalam rokok tradisional akan sedikit demi sedikit menghilang.
4. Bebas merokok di mana pun. Tidak perlu mencari smoking area. Bahkan, di dalam pesawat pun masih tetap bisa merokok.
5. Pada akhirnya, kecanduan merokok akan menghilang. Rokok elektronik, secara teknis, memang tidak berhenti merokok, tetapi bisa membantu perokok untuk berhenti kapan pun. Ada empat tingkatan "nikotin" dalam rokok elektronik. Untuk berhenti merokok, setiap kali isap lah nikotin dengan kadar yang menurun. Pada akhirnya perokok akan benar-benar berhenti kecanduan nikotin.
6. Penampilan jadi keren. Tampil bergaya dengan sebatang rokok berwarna hitam dengan warna "api" biru berkedip setiap kali Anda mengisap rokok tersebut.
7. Bebas dari segala penyakit yang disebabkan oleh merokok. Bukan rahasia lagi kalau rokok sangat berbahaya untuk tubuh. Dengan rokok elektronik, tubuh akan bebas 100 persen dari penyakit yang disebabkan rokok.
8. Tidak membuat udara terpolusi. Selain tidak berbau, rokok elektronik tidak menghasilkan abu rokok dan juga tidak ada puntung rokok. Jadi, rokok elektronik juga ramah lingkungan.
9. Rasanya lebih enak daripada rokok tradisional. Itu menurut mereka yang telah mencoba rokok elektronik.
Jadi, dengan rokok elektronik, Anda Tidak perlu khawatir terhadap risiko kanker paru-paru dan penyakit mengerikan lainnya. Hidup sehat bisa tetap dilakukan dengan rokok elektronik.
(DIAN SAVITRI)
http://health.kompas.com/read/2011/11/19/17451876/Rokok.Elektronik.Berasap.Uap.Air
Penemuan electronic cigarette, atau yang disingkat e-cigarette, adalah langkah yang tepat untuk para perokok yang sangat ingin berhenti dari kecanduan nikotin yang terdapat pada rokok konvensional.
Menurut situs My Smoking Altenatives, rokok elektronik sedang populer di antara para perokok. Perokok tersebut dibagi dalam dua kategori : mereka yang benar-benar ingin berhenti merokok dan kedua, mereka yang masih ingin meneruskan merokok, tetapi dengan "cara yang aman". Dan rokok elektronik menjadi cara untuk perokok kategori kedua.
Rokok elektronik terlihat dan terasa seperti rokok sesungguhnya. Ketika Anda mengisap, ujung rokok akan menyala seperti layaknya rokok biasa.
Rokok elektronik itu juga mengeluarkan asap. Hanya saja, asap itu berasal dari uap air yang sama sekali tidak berbahaya dan tidak berbau. Rokok elektronik dioperasikan dehgan menggunakan teknologi elektronik. Rokok elektronik juga tidak mengandung bahan-bahan berbahaya yang ditemui dalam rokok tradisional. Rokok elektronik tidak mengandung karbon monoksida/ dioksida, tidak berbau, tidak membuat napas menjadi bau, dan juga tidak menguningkan gigi.
Keuntungan lain adalah perokok elektronik tidak membahayakan orang lain, yang biasa disebut sebagai second hand smoke. Mereka bisa tetap merokok di tempat-tempat umum. Sungguh, rokok elektronik itu benar-benar bisa dipakai bergaya dan juga tidak merugikan orang lain.
Ada sembilan alasan mengapa para perokok harus mulai meninggalkan rokok tradisional dan menggantikannya dengan rokok elektronik.
1. Sehat karena tidak mengandung tar dan karsinogen. Bahkan, sudah ada penelitian yang mengonfirmasi bahwa rokok elektronik tidak menyebabkan kanker.
2. Mendekatkan perokok dengan orang lain. Tidak dapat dipungkiri, jika ada yang merokok di antara kita, biasanya mereka yang tidak merokok akan menghindar. Dengan demikian, si perokok hanya berdiri sendiri di sana untuk menikmati bau rokoknya. Rokok elektronik sama sekali tidak berbau, jadi perokok akan tetap bisa berbaur dengan orang lain.
3. Hilangkan kecanduan secara perlahan. Kebiasaan merokok memang sulit dihentikan, sehingga membuat kecanduan. Nah, dengan rokok elektronik, kecanduan merokok seperti dalam rokok tradisional akan sedikit demi sedikit menghilang.
4. Bebas merokok di mana pun. Tidak perlu mencari smoking area. Bahkan, di dalam pesawat pun masih tetap bisa merokok.
5. Pada akhirnya, kecanduan merokok akan menghilang. Rokok elektronik, secara teknis, memang tidak berhenti merokok, tetapi bisa membantu perokok untuk berhenti kapan pun. Ada empat tingkatan "nikotin" dalam rokok elektronik. Untuk berhenti merokok, setiap kali isap lah nikotin dengan kadar yang menurun. Pada akhirnya perokok akan benar-benar berhenti kecanduan nikotin.
6. Penampilan jadi keren. Tampil bergaya dengan sebatang rokok berwarna hitam dengan warna "api" biru berkedip setiap kali Anda mengisap rokok tersebut.
7. Bebas dari segala penyakit yang disebabkan oleh merokok. Bukan rahasia lagi kalau rokok sangat berbahaya untuk tubuh. Dengan rokok elektronik, tubuh akan bebas 100 persen dari penyakit yang disebabkan rokok.
8. Tidak membuat udara terpolusi. Selain tidak berbau, rokok elektronik tidak menghasilkan abu rokok dan juga tidak ada puntung rokok. Jadi, rokok elektronik juga ramah lingkungan.
9. Rasanya lebih enak daripada rokok tradisional. Itu menurut mereka yang telah mencoba rokok elektronik.
Jadi, dengan rokok elektronik, Anda Tidak perlu khawatir terhadap risiko kanker paru-paru dan penyakit mengerikan lainnya. Hidup sehat bisa tetap dilakukan dengan rokok elektronik.
(DIAN SAVITRI)
http://health.kompas.com/read/2011/11/19/17451876/Rokok.Elektronik.Berasap.Uap.Air
Stop Merokok Minimal 2 Minggu, Batuk Hilang!
KOMPAS.com - Tidak pernah ada kata terlambat bagi Anda berhenti merokok. Sebuah riset terbaru bahkan menunjukkan, berhenti merokok hanya dua minggu dapat mengobati masalah batuk dan gangguan pernafasan lainnya.
Peneliti berpendapat, temuan ini menjadi penting khususnya untuk menyadarkan orang dewasa muda tentang manfaat berhenti merokok.
Riset yang dilakukan Karen Calabro, DrPH dan Alexander Prokhorov, MD, PhD dari University of Texas MD Anderson Cancer Center, menunjukkan bahwa relawan berusia 18-24 tahun yang berhenti merokok setidaknya dua minggu, memiliki risiko lebih rendah mengalami gangguan pernafasan, terutama yang berkaitan dengan gejala batuk.
"Berhenti merokok hanya dalam hitungan minggu sudah dapat memberikan manfaat kepada Anda (tidak perlu sampai setahun atau puluhan tahun). Temuan ini diharapkan dapat membantu memotivasi orang dewasa muda untuk berhenti merokok sebelum terjadi kerusakan lebih parah," kata Harold Farber, MD, MSPH, Baylor College of Medicine, Houston.
Dalam risetnya, para peneliti membandingkan dua kelompok mahasiswa yang mengalami gangguan pernapasan. Para mahasiswa ini diketahui merokok rata-rata 5 sampai 10 batang dalam sehari selama 1 sampai 5 tahun. Mahasiswa pada kelompok pertama adalah mereka yang berhasil untuk berhenti merokok selama dua pekan, sedangkan satu kelompok lainnya yang gagal menghentikan kebiasaannya.
Hasilnya diketahui bahwa peserta yang berhenti merokok selama dua minggu, cenderung mengalami penurunan masalah pernafasan, terutama terkait gejala batuk. Dengan temuan ini, peneliti mengimbau kepada kepada perokok untuk segera berhenti merokok sebelum masalah pernapasan menjadi lebih parah dan tidak dapat diobati.
http://health.kompas.com/read/2012/02/07/08382477/Stop.Merokok.Minimal.2.Minggu.Batuk.Hilang.
Peneliti berpendapat, temuan ini menjadi penting khususnya untuk menyadarkan orang dewasa muda tentang manfaat berhenti merokok.
Riset yang dilakukan Karen Calabro, DrPH dan Alexander Prokhorov, MD, PhD dari University of Texas MD Anderson Cancer Center, menunjukkan bahwa relawan berusia 18-24 tahun yang berhenti merokok setidaknya dua minggu, memiliki risiko lebih rendah mengalami gangguan pernafasan, terutama yang berkaitan dengan gejala batuk.
"Berhenti merokok hanya dalam hitungan minggu sudah dapat memberikan manfaat kepada Anda (tidak perlu sampai setahun atau puluhan tahun). Temuan ini diharapkan dapat membantu memotivasi orang dewasa muda untuk berhenti merokok sebelum terjadi kerusakan lebih parah," kata Harold Farber, MD, MSPH, Baylor College of Medicine, Houston.
Dalam risetnya, para peneliti membandingkan dua kelompok mahasiswa yang mengalami gangguan pernapasan. Para mahasiswa ini diketahui merokok rata-rata 5 sampai 10 batang dalam sehari selama 1 sampai 5 tahun. Mahasiswa pada kelompok pertama adalah mereka yang berhasil untuk berhenti merokok selama dua pekan, sedangkan satu kelompok lainnya yang gagal menghentikan kebiasaannya.
Hasilnya diketahui bahwa peserta yang berhenti merokok selama dua minggu, cenderung mengalami penurunan masalah pernafasan, terutama terkait gejala batuk. Dengan temuan ini, peneliti mengimbau kepada kepada perokok untuk segera berhenti merokok sebelum masalah pernapasan menjadi lebih parah dan tidak dapat diobati.
http://health.kompas.com/read/2012/02/07/08382477/Stop.Merokok.Minimal.2.Minggu.Batuk.Hilang.
Tuesday, February 7, 2012
Agar Jera, Kemasan Rokok Dibuat Mengerikan
UPAYA untuk menyadarkan para pecandu rokok supaya meninggalkan kebiasaan buruknya memang tak mudah. Banyak hal telah dilakukan, mulai dari kampanye bahaya rokok bagi kesehatan hingga penerapan aturan tentang pencantuman peringatan tertulis bahayanya di kemasan meski hasil belum efektif.

Di Inggris, upaya menyadarkan perokok dan mencegah bertambahnya perokok baru terus dilakukan. Belum lama ini, Pemerintah Inggris menerapkan suatu kebijakan yang cukup revolusioner, yakni mewajibkan para produsen rokok mencantumkan gambar-gambar mengerikan akibat dampak merokok di setiap kemasan.
Pemuatan gambar-gambar mengerikan di kemasan rokok itu telah dimulai sejak pekan ini. Departemen Kesehatan Inggris mengharapkan langkah ini akan membuat para perokok mengubah pendiriannya dan menyadarkan mereka betapa mengerikan akibat yang ditimbulkan rokok.
Sekurangya, 11 gambar telah didesain untuk dimuat di setiap kemasan rokok dan salah satu yang paling mengerikan adalah gambar seorang penderita kanker tenggorokan dengan tumor besar yang membelit lehernya.
Di Inggris, upaya menyadarkan perokok dan mencegah bertambahnya perokok baru terus dilakukan. Belum lama ini, Pemerintah Inggris menerapkan suatu kebijakan yang cukup revolusioner, yakni mewajibkan para produsen rokok mencantumkan gambar-gambar mengerikan akibat dampak merokok di setiap kemasan.
Pemuatan gambar-gambar mengerikan di kemasan rokok itu telah dimulai sejak pekan ini. Departemen Kesehatan Inggris mengharapkan langkah ini akan membuat para perokok mengubah pendiriannya dan menyadarkan mereka betapa mengerikan akibat yang ditimbulkan rokok.
Sekurangya, 11 gambar telah didesain untuk dimuat di setiap kemasan rokok dan salah satu yang paling mengerikan adalah gambar seorang penderita kanker tenggorokan dengan tumor besar yang membelit lehernya.
Depkes Inggris menyatakan, kampanye akan bahaya rokok melalui tulisan saja setidaknya telah membuat sekitar 90.000 perokok di Inggris menelepon posko bantuan untuk mengatasi rokok. Dengan strategi baru ini, Kepala Bagian Medis Sir Liam Donaldson berharap akan semakin banyak lagi perokok yang sadar.
“Gambar peringatan yang mengerikan itu memberi tekanan kuat akan kenyataan dari dampak bila seseorang terus merokok. Saya harap akan lebih banyak yang berpikir untuk berhenti merokok," ujarnya.
“Gambar peringatan yang mengerikan itu memberi tekanan kuat akan kenyataan dari dampak bila seseorang terus merokok. Saya harap akan lebih banyak yang berpikir untuk berhenti merokok," ujarnya.
http://health.kompas.com/read/2008/10/16/10430531/Agar.Jera.Kemasan.Rokok.Dibuat.Mengerikan
Kematian Akibat Merokok Dianggap Sepele
KOMPAS.com - Sudah tahu berbahaya tetapi tetap dilakukan. Kondisi itu sepertinya sangat cocok untuk menggambarkan sikap dari individu-individu yang sudah terlanjur kecanduan nikotin pada rokok.
Para peneliti dari NHS Smokefree dalam riset terbarunya mengungkapkan, sebanyak 53 persen perokok cenderung meremehkan risiko kematian disebabkan oleh penyakit yang dipicu akibat kebiasaan merokok. Bahkan, sebanyak 58 persen perokok juga cenderung meremehkan risiko kematian dini yang disebabkan karena rokok.
"Dan, sekali lagi, 8 persen dari mereka yang disurvei tidak menyadari, bahwa merokok dapat berdampak serius pada kesehatan atau menyebabkan kematian dini," kata peneliti NHS.
Tidak hanya itu. Temuan tersebut juga menunjukkan ketidak pedulian perokok terkait banyaknya uang yang mereka habiskan hanya untuk membeli sebungkus rokok.
"Berhenti merokok adalah hal terbaik yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan kesehatan Anda di tahun baru. Yang jelas, bahwa mayoritas perokok ingin berhenti merokok dan NHS bersedia membantu mereka berhenti selamanya," kata Anne Milton Menteri Kesehatan Inggris.
Di Indonesia, menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 2010, terjadi kecenderungan peningkatan umur mulai merokok pada usia lebih muda. Data Riskesdas 2010 menunjukkan, umur pertama kali merokok pada usia 5-9 tahun sebesar 1,7 persen, usia 10-14 tahun sebesar 17,5 persen, usia 15-19 tahun sebesar 43 persen, usia 20-24 tahun sbesar 14,6 persen, 35-29 tahun sebesar 4,3 persen dan usia 30 tahun ke atas sebesar 3,9 persen.
http://health.kompas.com/read/2012/01/02/20541287/Kematian.Akibat.Merokok.Dianggap.Sepele
Para peneliti dari NHS Smokefree dalam riset terbarunya mengungkapkan, sebanyak 53 persen perokok cenderung meremehkan risiko kematian disebabkan oleh penyakit yang dipicu akibat kebiasaan merokok. Bahkan, sebanyak 58 persen perokok juga cenderung meremehkan risiko kematian dini yang disebabkan karena rokok.
"Dan, sekali lagi, 8 persen dari mereka yang disurvei tidak menyadari, bahwa merokok dapat berdampak serius pada kesehatan atau menyebabkan kematian dini," kata peneliti NHS.
Tidak hanya itu. Temuan tersebut juga menunjukkan ketidak pedulian perokok terkait banyaknya uang yang mereka habiskan hanya untuk membeli sebungkus rokok.
"Berhenti merokok adalah hal terbaik yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan kesehatan Anda di tahun baru. Yang jelas, bahwa mayoritas perokok ingin berhenti merokok dan NHS bersedia membantu mereka berhenti selamanya," kata Anne Milton Menteri Kesehatan Inggris.
Di Indonesia, menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 2010, terjadi kecenderungan peningkatan umur mulai merokok pada usia lebih muda. Data Riskesdas 2010 menunjukkan, umur pertama kali merokok pada usia 5-9 tahun sebesar 1,7 persen, usia 10-14 tahun sebesar 17,5 persen, usia 15-19 tahun sebesar 43 persen, usia 20-24 tahun sbesar 14,6 persen, 35-29 tahun sebesar 4,3 persen dan usia 30 tahun ke atas sebesar 3,9 persen.
http://health.kompas.com/read/2012/01/02/20541287/Kematian.Akibat.Merokok.Dianggap.Sepele
Merokok Bikin Otak Lemot
KOMPAS.com - Bukti efek negatif dari kebiasaan merokok kembali diungkap oleh sebuah penelitian. Para ahli di Inggris menunjukkan bahwa merokok dapat mempercepat penurunan kualitas memori, cara berpikir, dan belajar khususnya di kalangan pria. Temuan ini menambah daftar panjang alasan bagi para perokok untuk segera berhenti.
Bukan rahasia lagi kalau dalam sebatang rokok setidaknya terkandung sekitar 4.000 zat kimia yang berbahaya bagi tubuh manusia. Tak heran apabila banyak penelitian menyebutkan bahwa asap rokok memiliki andil besar dalam merusak kesehatan.
Dalam riset terbaru dipublikasikan pada 6 Februari 2012 dalam jurnal Archives of General Psychiatry, Severine Sabia dari University College London beserta rekan-rekannya menganalisis data sekitar 5.100 pria dan lebih dari 2.100 wanita. Penelitian dilakukan dengan cara menilai serta menganalisis responden terkait fungsi mental seperti memori, pembelajaran dan pengolahan pikiran.
Penilaian fungsi mental para responden dilakukan selama tiga kali selama kurun waktu 10 tahun. Sedangkan penilaian status merokok responden dilakukan enam kali dalam kurun waktu 25 tahun. Usia rata-rata responden adalah sekitar 56 tahun ketika penilaian pertama dilakukan.
Peneliti menemukan bahwa di kalangan kaum pria, merokok berhubungan dengan merosotnya kemampuan otak yang lebih cepat. Selain itu, penurunan yang lebih masif terjadi pada pria yang terus merokok selama masa penelitian.
Di antara responden yang berhenti merokok, upaya meninggalkan rokok rupanya tidak terlalu membantu. Peneliti menemukan bahwa pria yang berhenti merokok dalam 10 tahun sebelum penilaian pertama dilakukan ternyata masih berisiko mengalami penurunan mental, terutama terkait fungsi "eksekutif" pada otak. Namun, mereka yang telah berhenti merokok dalam jangka waktu lama, cenderung mengalami penurunan fungsi otak lebih lambat.
"Akhirnya, hasil penelitian kami menunjukkan bahwa ada hubungan antara merokok dengan penurunan kemampuan mental, terutama pada usia lebih tua," kata peneliti.
Peneliti menambahkan, meski temuan tersebut telah menemukan hubungan antara merokok dan penurunan mental pada pria, tetapi hal ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.
"Temuan ini menggarisbawahi bahwa merokok memiliki dampak buruk terhadap otak. Kebiasaan merokok di usia pertengahan adalah faktor yang dapat dimodifikasi yang mana efeknya mungkin setara dengan penurunan (fungsi mental) hingga rata-rata 10 tahun ," kata Dr. Marc Gordon, Kepala Neurologi di Zucker Hillside Hospital, Glen Oaks, N.Y, yang tidak terlibat dalam penelitian.
Dalam riset ini, para ahli tidak menemukan hubungan antara efek merokok dengan penurunan fungsi mental pada kaum wanita. Alasan untuk perbedaan jenis kelamin ini belum terungkap dengan jelas. Tetapi hal itu mungkin berkaitan dengan fakta bahwa pria umumnya cenderung merokok lebih banyak ketimbang wanita.
http://health.kompas.com/read/2012/02/08/0833223/Merokok.Bikin.Otak.Lemot
Bukan rahasia lagi kalau dalam sebatang rokok setidaknya terkandung sekitar 4.000 zat kimia yang berbahaya bagi tubuh manusia. Tak heran apabila banyak penelitian menyebutkan bahwa asap rokok memiliki andil besar dalam merusak kesehatan.
Dalam riset terbaru dipublikasikan pada 6 Februari 2012 dalam jurnal Archives of General Psychiatry, Severine Sabia dari University College London beserta rekan-rekannya menganalisis data sekitar 5.100 pria dan lebih dari 2.100 wanita. Penelitian dilakukan dengan cara menilai serta menganalisis responden terkait fungsi mental seperti memori, pembelajaran dan pengolahan pikiran.
Penilaian fungsi mental para responden dilakukan selama tiga kali selama kurun waktu 10 tahun. Sedangkan penilaian status merokok responden dilakukan enam kali dalam kurun waktu 25 tahun. Usia rata-rata responden adalah sekitar 56 tahun ketika penilaian pertama dilakukan.
Peneliti menemukan bahwa di kalangan kaum pria, merokok berhubungan dengan merosotnya kemampuan otak yang lebih cepat. Selain itu, penurunan yang lebih masif terjadi pada pria yang terus merokok selama masa penelitian.
Di antara responden yang berhenti merokok, upaya meninggalkan rokok rupanya tidak terlalu membantu. Peneliti menemukan bahwa pria yang berhenti merokok dalam 10 tahun sebelum penilaian pertama dilakukan ternyata masih berisiko mengalami penurunan mental, terutama terkait fungsi "eksekutif" pada otak. Namun, mereka yang telah berhenti merokok dalam jangka waktu lama, cenderung mengalami penurunan fungsi otak lebih lambat.
"Akhirnya, hasil penelitian kami menunjukkan bahwa ada hubungan antara merokok dengan penurunan kemampuan mental, terutama pada usia lebih tua," kata peneliti.
Peneliti menambahkan, meski temuan tersebut telah menemukan hubungan antara merokok dan penurunan mental pada pria, tetapi hal ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.
"Temuan ini menggarisbawahi bahwa merokok memiliki dampak buruk terhadap otak. Kebiasaan merokok di usia pertengahan adalah faktor yang dapat dimodifikasi yang mana efeknya mungkin setara dengan penurunan (fungsi mental) hingga rata-rata 10 tahun ," kata Dr. Marc Gordon, Kepala Neurologi di Zucker Hillside Hospital, Glen Oaks, N.Y, yang tidak terlibat dalam penelitian.
Dalam riset ini, para ahli tidak menemukan hubungan antara efek merokok dengan penurunan fungsi mental pada kaum wanita. Alasan untuk perbedaan jenis kelamin ini belum terungkap dengan jelas. Tetapi hal itu mungkin berkaitan dengan fakta bahwa pria umumnya cenderung merokok lebih banyak ketimbang wanita.
http://health.kompas.com/read/2012/02/08/0833223/Merokok.Bikin.Otak.Lemot
Subscribe to:
Posts (Atom)